Pelangi Di Langit Malam (7)

  • Sabtu, 25 September 2010
  • Posted by Ivan Rahmadiawan
  • Ngumpul di

Hoiiiyoo… setelah lama gak nulis kelanjutan Sharon, alhamdulillah, akhirnya bagian (7) selesai dengan hasil yang seperti ini (silahkan di baca sendiri dah). Semoga suka dan tetep mau baca sampai bagian 10nya… *kriukkkk* hehhe

Pokoknya semua misterinya akan terjawab di Blog I Am… !!!

Pelangi Di Langit Malam (7)

Matahari menghangatkan tubuh sang peri kecil di balik selimut tebal, kulihat dimatanya terdapat guratan lelah. Bibir polosnya tampak tersimpul manis bersama guling yang ia peluk. Sharon makin erat mendekap guling dan membenamkan semua rasa letih di bantal empuknya.

Terik sinar mentari pagi dari jendela kamar pun tak ia hiraukan, ia masih kembali menjemput semua mimpi sebelum peri dongeng pergi kelangit dan hilang bersama awan. Kututup kembali pintu kamarnya dengan hati – hati sampai tak menimbulkan bunyi yang dapat membuatnya terbangun.

“Selamat pagi Heidi.” Tegurku dikala ia membuat susu hangat. Tanpa basa – basi aku mengecup pipi kanan-kirinya, karena ia sudah ku anggap ibu sendiri.

“Selamat pagi Rob, aku membuat susu coklat. Apa kamu ingin juga??” tegurnya ketika aku berada disamping kanannya.

“Terimakasih, aku kenyang karena secangkir kopi dan sepotong roti keju.” Balasku dengan memegang pundaknya.

“Kudengar ibunya Sharon mengirim e-mail ?” Tanya Heidi penasaran dengan tangan mengaduk susu hangatnya.

“Iya, ia mengirim beberapaa halaman. Dan itu menandakan ia sudah sadar kalu anak akan butuh sosok Ibu, dan sebaliknya.” Jawabku dengan serius.

“Seperti air yang mengalir dan kembali ke pusarannya. Semoga saja cerita di novel “Mother lovely” akan benar – benar terjadi diakhir cerita ini.” Ujar Heidi dengan suara berharap.

Percakapan pagi bersama Heidi adalah pengganti suasana rumahku tempo dulu. Sebelum mengawali aktifitas selalu aku sempatan untuk ngobrol dimeja makan bersama ibu dan ayah. Dan kini semua terlalu cepat untuk berubah. Pikirku di hari libur seperti ini ada rasa yang tak enak ketika harus memanggil Heidi untuk menemani Sharon di rumah, ini karena aku ada urusaan kantor yang harus diselesaikan dihari libur seperti ini.

^^^

Langkah kaki ku yang tak rela meninggalkan rumah harus kupaksa dengan bayangan muka bossku sendiri. Aku tak tau apa jadinya kalu metting kali aku tak hadir? Mungkin saja pemotongan gaji dan pemecatan tanpa berbasa – basi akan mengantarkanku ke jurang pengangguran.

Menelusuri jalan raya sepagi ini dengan perasaan yang gelisah dan berharap rapat darurat ini segera usai dan mengembalikan rasa rindu ayah menjemput rasa rindu anaknya yang sedang terjaga oleh pengasuhnya.

Dan ketika tiba di kantor, kejutanan pertama yang aku terima adalah, metting ditunda 2 jam kedepan. Aku dan Frans sudah menduga kalu ini bakal terjadi, tapi apa boleh buat nasib karyawan sudah berkodrat di tangan atasan.

“Aku membatalkan liburan akhir pekan bersama putraku dan kamu tau apa terjadi ??” tiba – tiba Frans membuka topik perbincangan para ayah di kedai kopi dekat kantor. Lalu melanjutkan perkataanya dengan nada kesal, “dia membanting pintu kamar tanpa mau tau apa alasan kenapa hari sial ini terjadi.”

“Semoga kamu tau bagaimana mengatasi anak lelakimu Frans.” Jawabku menenangkannya.

“Bagaimana dengan rencanamu hari ini Rob?? Bukannya Sharon lebih penurut ketimbang anak lelakiku??” Tanya Frans yang membandingkan berbedaan mengasuh anak perempuan dan laki – laki.

“Menemaninya ke toko buku. Tapi saat ku tinggal, dia belum tau kalu rencana itu akan berubah menjadi tidak pasti.” Mukaku pun langsung panik kalu saja hari ini gagal menemaninya. “Semoga rayuanku masih berlaku ketika sampai dirumah.” Kataku dalam hati, berharap itu akan terjadi.

Beginilah para ayah mengobrolkan anak – anaknya, tak hanya aku dan Frans yang kesal, tapi ada teman sekontor lainnya yang mengalami hal yang serupa. Kami pun hanya bisa mengambil jurus masing – masing untuk membujuk putra – putri kami memahami apa yang terjadi.

^^^

Tepat pukul 4 sore aku kembali ke rumah dan seketika itu juga udara yang kuhirup telah bercampur aroma hujan dan tanah yang bersatu dan bertemu dengan rintikan hujan yang mulai deras.

Mataku menemukan Sharon dengan lahap menyantap sepiring kecil pudding buah bersama Kevin dan Clara, teman sekolahnya yang kebetulan satu kompleks. Mata Sharon yang mendapati tubuhku, segera membujuk ayahnya untuk duduk bersama di meja makan.

“Ayah, kenapa hari libur seperti ini masih bekerja ??” Tanyanya ketus.

“Bukankah ini yang kebeberapa kalinya ayah seperti ini??” Jawabku mengingat berapa kali aku bekerja di hari libur??.

“Tapi kan janji kita..” dengan cepat aku melanjutkan ocehannya Sharon, “menemani mu ke toko buku!!!!” mimik wajahku aku paksa untuk ceria.

“Tapi hujan dan sudah sore Yahhh…”

“Masih ada waktu untuk kesana kan sayang?? Lihat hujan dan tanah, mereka sering membuat janji, tapi sepertinya janji mereka sering terganjal oleh beberapa musim. Tapi apa mereka marah ketika sesuatu yang terlamabat datangnya untuk mempertemukan mereka lagi??”

“Nggak mungkin bisa aku jawab, karena aku tak tau kapan hujan dan tanah membuat janji.” Jawabnya tegas dan masuk akal menjelaskannya.

Nafasku terhenti beberapa detik manghadapi anak sekritis ini dan kami pun sepakat untuk pergi jam 7 malam bersama Kevin dan Clara. Kami akan melewati malam ini di pusat hiburan kota, dan aku lebih memilih untuk mengikuti kemauan anak – anak ini, karena tak ingin bergulat dengan ocehan meraka yang terkadang membuat orang dewasa tanpa sadar rela meminum racun dari gelas jusnya.

^^^

Hampir semua toko yang menjual segala dunia anak, mereka kunjungin. Pikiranku selama berjalan dari satu toko ke toko lainnya adalah membayangkan nasib kartu kreditku ini yang mungkin akan jebol dalam hitungan menit.

Sharon, apa yang belum kamu dapatkan?? Karena ayah sudah letih mengikuti kalian semua. Hampir semua toko kalian jelajahi. Ayah sudah tidak kuat lagi untuk berjalan.” Omelanku kini terasa bervolume, karena faktor lelah dan usia yang tidak bisa disamakan dengan bocah 9 tahun.

“Ayah bisa cari minum dulu, aku, Kevin, sama Clara akan nyusul ayah.” usulannya didukung oleh dua kawannya.

Selang meninggalkan mereka, aku menikmati kembali green tea yang segar dan ini membuat letih di tumit kaki terasa berkurang. Kulirik jam dilengan kanan dan kuhitung berapa jam sudah aku mengikuti tiga bocah itu untuk mengikuti ritual dunia anak mereka.

Sejam berlalu, tak ada tanda – tanda mereka muncul, tapi dari arah belakang ada yang menutup mataku dengan jari – jari yang kecil. Aku tebak ini bukanlah jari orang dewasa.

“Kejutannnn…” teriak Kevin dari belakang yang diikuti dua kawannya termasuk Sharon.

Aku tertawa geli melihat mereka bertiga membawa cup ice cream masing – masing di tangan. Dan Sharon membawa dua cup ukuran sedang, “Ayah, aku bawakan ice cream ini untukmu. Aku beli dengan uang jajan yang kemaren tak kuhabiskan.” Katanya lantang dan bangga bisa membelikan ice cream untuk ayahnya. “ehm… Clara dan Kevin sih yang tambahin uangnya, karena uang yang kupunya tak cukup.” Sharon melanjutkan ocehannya dan tertawa malu.

Hahaha…. Aku tertawa hampir menyerupai monster, karena mimik muka tiga bocah ini yang lugu.

^^^

Kami lanjut ke rencana berikutnya dan taman kota pilihan mereka.

Aku mendengar obrolan Sharon, Kevin dan Clara mengenai pelangi di langit gelap. Yang aku ingat, itu hanya cerita karangan ibunya Sharon yang rajin menulis cerita singkat untuknya, dan kini aku kembali diingatkan oleh filosofi pelangi itu.

Sharon, tidak mungkin ada pelangi di malam hari.” Kata Kevin dengan memandangi langit malam seluas laut samudra yang tercampur tinta cumi raksasa.

“Iya, tapi sebenarnya pelangi, awan, bintang, bulan dan matahari bersahabat. Mereka bergantian untuk menjaga isi di bumi, memantau semua gerak – gerik manusia.” Kujawab dengan fantasiku sendiri. Kini aku sudah bergabung dengan mereka.

“Paman tau dari mana??” Tanya Clara penasaran.

“Semua orang tau, cuma kalian yang tak pernah mau tau.”

^^^

Sepanjang pulang, mereka masih membahas perkataanku yang ‘cuma kalian yang tak pernah mau tau’ itu. Dan hebatnya semua protes gak setuju dengan ucapanku. Alasan Kevin, pelangi itu ada setiap saat dan aku sering melihatnya. Sedangkan Clara menjawab, Aku tak pernah melihat pelangi di malam hari. Mungkin diantara kalian bisa kontak aku bila itu terjadi. Nah, Sharon hanya menjawab, Aku lebih setuju apa kata ayah, Pelangi di langit malam itu menggambarkan gelapnya malam tidak akan penah menakutkan dengan adanya seseorang yang kita cintai. Ayah dan Ibu.

Aku sendiri membiarkan mereka mengembangkan apa maksud dari topic malam ini. Setiap anak punya imajinasinya sendiri, dan aku tak akan pernah bisa membatasi bagaimana mereka mengolah imajinasi itu menjadi sumber keyakinan mereka.

^^^

Kubiarkan kaki letihku menjadi kompas, menentukan dimana aku harus berada. Ehmm.. “KAMAR” radar yang kuperoleh dari kakiku yang berteriak. Mengambil satu bantal dan menindihnya dengan notebook di pangkuaku, jari – jariku cekatan membuka satu demi satu email yang baru kuterima dari Claire.

“Wow, apa ini ‘Kejutan berikutnya’ ?” Tanya ku kaget.

---------------------------

N.B : ehmm… kalau lagi males koment, jangan takut buat kasih reaksi kamu setelah baca cerita ini yah?? Pilih aja di “Reaksi Pembaca”, biar aku tau semenarik apa cerita ini… Terimakasih :)

Happy 2nd Anniversary, Sayang…

“Sejak kapan kamu merokok lagi?” tanyaku.
“Bukannya aku dari dulu merokok?” jawabnya ketus.
“Iya, tapi kan kamu janji gak gini lagi.”
“Kenapa harus aku yang mengikuti kemauanmu terus sih?” teriaknya kasar.

Aku hanya bisa duduk lemas dan tidak menyangka dia sekasar ini dan membuatku tak nyaman.

“Sayang, bukannya kamu sendiri yang mau berubah?”
“Itu dulu, sekarang aku lagi pengen aja.”
“Awal mulanya juga gitu kan? Cuma pengen, terus ketagihan.”
“Kamu bawel, ini juga baru sebatang belum satu bungkus.”

Suasana mulai menegang, nada bicara kami terdengar meninggi.

“Oh, jadi aku bawel?”
“Kalu gak bawel apa? Bawal? Ikan dong?” dia balikin pertanyaan yang bikin aku makin kesal.
“Ohh, thanks sayang. Kamu bikin mimpi buruk sudah kejadian sebelum aku pergi tidur.”
“Terus kamu mau ngambek???”
“Apa kamu gak bisa liat mukaku semerah ini??”
“Hahah.. muka merah kamu kan karena efek blushon.”

Pria ini memulai perdebatan yang gak penting.

“Lebih baik kamu pulang dan kita ketemu dua minggu lagi.”
“Baiklah, dua minggu apa nggak terlalu lama?”
“Itu cukup membuatmu bersalah karena malam ini.”

Kubalik badan untuk masuk kerumah karena ingin sekali segera kubenamkan muka penuh emosi ini ke bantal, tetapi dia menarik tanganku dan berbisik pelan.

“Happy 2nd anniversary dear..”

Jlebbb, kaya kesiram air es terus turun salju lokal. Kaget banget dengernya.

“Hah? Jadi kamu sengaja??”
“Yah iyalahh… maaf yah bikin kamu bete. Dua minggunya fail kan??”
“Ehmm… masih berlaku kalu nggak traktir aku makan.”
“Traktir ini aja deh.” Sambil merogoh sesuatu di saku jeansnya.

Yah tuhan, Vadie kasih dua tiket liburan ke Bali. Gak bisa bilang apa – apa lagi selain peluk dia.

P.S : Iseng – iseng buat fiksi mini, yang isinya cuma penggalan cerita sederhana bermuat (+/-) 250 kata… Semoga menghibur anda yang lagi kesasar diblog ini. :)